Catatan [Menulis] Yang Berserakan:
Mewujudkan Mimpi Komunitas Penulis di ‘Saigon City’
A. PROLOGUE
Catatan ini dibuat untuk mewujudkan sebuah “mimpi imajiner”, yakni keinginan untuk membentuk sebuah komunitas yang mampu dan mempunyai keahlian dalam menulis. Untuk memulai mimpi ini, alhamdulillah telah terlaksana dengan baik, karena ikhtiar bersama dari teman-teman seperjuangan, khususnya PMII Ngalah yang terwujud dalam bentuk Training Menulis pada tanggal 28 Desember 2007 – 3 Februari 2008.
Kenapa harus bermimpi tentang menulis? Ada beberapa rasionalisasi mengapa menulis mempunyai nilai lebih, diantaranya:
Pertama, sebagai media transformasi dari alam pikiran menjadi alam tulisan yang mampu dibaca oleh orang lain. Dalam hal ini, dapat membayangkan bagaimana fungsi computer yang mampu mengolah kata dan data, namun akan lebih berarti apabila hasil olah data dan kata tersebut di print out menjadi data tertulis sehingga dapat dibaca walaupun listrik padam sekalipun. Begitu juga dengan anak manusia, hasil olah pikir manusia akan dapat memiliki arti dan kekuatan apabila hasil pemikirannya dapat tertuang dalam tulisan, sehingga dapat dipelajari oleh anak manusia yang lain.
Kedua, orang yang terbiasa menulis maka sesungguhnya dia tidak hanya mampu untuk mengolah apa yang ada dibenaknya, tetapi lebih dari itu, dia akan mampu menganalisa dan peka terhadap peristiwa yang terjadi disekitarnya. Walaupun persitiwa pada umumnya tidak menjadi suatu hal yang menarik bagi khalayak umum, namun bagi dia akan mampu untuk melihat dari hal yang biasa menjadi hal yang luar biasa, tentunya dengan sudut pandang tertentu yang telah terasah.
Ketiga, tulisan bukanlah benda mati yang terdiri dari huruf-huruf yang terjejer dengan kaidah tertentu sehingga menjadi kalimat yang bisa dibaca. Tetapi, tulisan adalah sebuah roh yang mampu memberikan kehidupan dan warna, yang mampu memberikan 1000 makna, dan yang mampu menggerakkan orang menjadi lebih berguna bagi sesama.

Keinginan untuk membentuk komunitas ini bukanlah hal yang muluk-muluk, dan juga bukan hal yang tidak mungkin. Tetapi bila tidak ada greget dan movement maka mimpi ini tidak akan menjadi nyata. Untuk mewujudkan mimpi imajiner di ‘Saigon City’ ini pasti akana berhadapan dengan halang rintang dan problem yang akan menghadang, namun apabila berhasil diwujudkan maka diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk melestarikannya sehingga tidak hanya berhenti pada jenjang formalitas, tetapi bisa mengkultur pada strata yang lebih mendasar.
Untuk memulai memahat karya mimpi ini, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yakni :
1. Membaca potensi komunitas yang bisa diajak untuk membentuk komunitas menulis.
2. Mulai mewacanakan tentang pentingnya menulis dan menunggu reaksi sasaran tentang wacana yang dikembangkan
3. Apabila reaksi positif, maka segera membuat perangkat untuk bisa menopang terlaksananya dari wacana yang dikembangkan, misalnya membuat training menulis
4. Apabila dari hasil training mempunyai kekuatan untuk dipublikasikan, maka alangkah baiknya mencari media yang bisa menampung karya tulis mereka. Apabila tidak memungkinkan atau masih sulit dilaksanakan, membuat media sendiri adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan, misalnya bulletin atau diposting dalam webblog
5. Untuk menjaga kesinambungan dan tetap terjaganya potensi menulis, maka perlu dibentuk satu komunitas yang bisa mengcovernya. Komunitas ini tidak harus berbentuk formal, namun komunitas ini perlu dicari format yang fleksibel dan mampu mengakomodir serta mentransformasikan ke dalam media yang ada.
Langkah-langkah di atas adalah langkah yang masih abstrak, karena hal tersebut masih belum pernah dilaksanakan, khususnya di ‘Saigon City’ ini.
B. MENUJU MIMPI
Aku tak pernah dapat memikirkan rencana mendetail tentang apa yang akan terjadi di masa depan…
Aku hanya mengatakan, aku akan berjuang…
Siapa yang tahu, aku akan sampai dimana?
(Richard Stallman)
· Membaca Potensi Komunitas
Pada prinsipnya, sasaran komunitas dalam kontek ini tidak memandang umur, jenis kelamin, dan strata, serta domisilinya. Semua mempunyai potensi yang sama. Tinggal bagaimana cara mengolahnya.
Untuk mempermudah dalam mengelola dan memantau hasil yang telah didapat, maka prinsip semakin spesifik sasaran, semakin mudah dalam pengelolaan, dan semakin efektif dalam pelaksanaan. Berangkat dari prinsip tersebut, ada beberapa sasaran yang ada di ‘Saigon City’ yang perlu dilirik untuk dipilih, diantaranya :
- Komunitas pesantren
- Komunitas siswa
- Komunitas mahasiswa
Dari ketiga komunitas diatas, maka komunitas mahasiswa yang paling memungkinkan untuk dibidik. Ada beberapa latar belakang mengapa komunitas mahasiswa lebih mempunyai potensi, diantaranya: 1) Komunitas ini mempunyai pemikiran yang lebih homogen. 2) Tingkat kebutuhan untuk bisa menulis yang tinggi, karena tuntutan dari tugas mahasiswa yang harus mampu untuk menulis, khususnya membuat makalah. 3) Nilai gengsi. Dalam dunia mahasiswa, apabila tidak mampu dalam menulis maka dia termasuk mahasiswa yang underlimit. Mahasiswa dibawah standar. Begitu juga sebaliknya, apabila mahasiswa tersebut
mempunyai kemampuan, khususnya dalam bidang menulis maka dengan sendirinya strata kemahasiswaannya semakin tinggi dan diakui sebagai mahasiswa yang overlimit. Apalagi jika hasil tulisannya mampu dibuktikan dengan penerbitan buku atau mampu menembus media massa tingkat nasional, misalnya Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya.
Dari latar belakang tersebut, komunitas mahasiswa ini pun masih perlu untuk dispesifikasikan. Apakah mahasiswa baru (maba) atau mahasiswa lama. Dari hasil perbandingan maka mahasiswa baru adalah sasaran empuk untuk menjadi lahan garapan, perbandingan ini didasarkan pada potensi, keinginan yang tinggi, keingintahuan dalam mengembangkan wacana dan kemampuan mereka dibidang akademis yang masih relative rendah. Tetapi dalam perkembangannya tidak dimungkinkan untuk menolak mahasiswa yang lama untuk bergabung dalam karya imajiner ini.
· Mewacanakan dan Reaksi Wacana Tentang Pentingnya Menulis.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam…
(Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq: 3-4)
Dalam mewacanakan mimpi karya imajiner ini tidaklah begitu sulit, karena memang kultur gesekan intelektual di ‘Saigon City’ sudah tercipta dengan bagus. Mahasiswa di ‘Saigon City’ secara cultural dan tanpa disadasari telah membuat cangkru’an wedang kopi. Cangkru’an dalam hal ini sering dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berinteraksi dan berdiskusi, baik tentang perkembangan kampus, perkembangan kegiatan mahasiswa, perkembangan pesantren, kadangkala politik, sosial dan budaya serta agama juga menjadi santapan pendamping dalam cangkru’an tersebut.
Karena penulis juga menjadi aktifis cangkru’an, maka untuk menuangkan ide-ide imajiner ini kepada sesama teman cangkru’an juga tidak menjadi persoalan yang berat. Dan walhasil, ternyata ide-ide imajiner ini disambut dan diseriusi oleh PMII Komisariat Ngalah untuk mencoba diwujudkan.
Waduh, kok beneran nih..? bagaimana konsepnya..? materi yang disampaikan apa..? terus yang menanganin siapa..? itu adalah beberapa pertanyaan yang muncul pada saat itu. Melihat reaksi yang positif serta I’tikad baik yang memang harus diwujudkan, maka saya pun secara cepat mencoba untuk membuat grand concept training menulis berdasarkan dari pengalaman mengikuti organisasi serta perkuliahan di pascasarjana.
Walhasil, akhirnya grand concept tersebut jadi juga. Dalam imajinasi saya, menuanagkan ide pikiran dalam hal menulis, tidak sesimple ketika menuangkan ide dalam bentuk bicara. Oleh karena itu, menulis memang harus dilatih agar apa yang ada dalam ide pikiran dalam tertransformasikan dengan baik dalam bentuk tulisan. Karena prosesnya harus berlatih, maka peserta tidak akan dapat memiliki keahlian menulis jika dia tidak melatih menulis secara terus menerus. Pemberian materi secara kognitif, bukanlah jaminan bahwa peserta akan memiliki kemampuan menulis. Oleh karena itu, rancangan materi training ini memang harus memberikan kesempatan kepada peserta untuk selalu menulis. Materi dalam forum lebih banyak berfungsi sebagai materi pengarah dan motivasi. Sedangkan training yang sesungguhnya ketika peserta berada dalam lingkungan mereka (penugasan rumah). Adapun materi dalam training ini adalah sebagai berikut:
|
Materi
|
Tujuan
|
Teknik
|
Bentuk Tugas
|
|
Technical Meeting
|
Memberikan penjelasan tentang aturan dan syarat yang dipenuhi oleh peserta training
|
· Peserta diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan training
· Peserta diberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mengikuti sesi interview
|
· Membawa sejumlah uang sebagai jaminan
· Membawa alat tulis yang paling disukai (agenda, buku tulis, atau kertas HVS)
|
|
Interview
Dan penugasan menulis
“Penulis untuk pemula”
|
· Menegaskan keseriusan peserta dalam mengikuti training
· Mengetahui latar belakang mengikuti training
· Memberikan arahan dan motivasi dalam proses training
· Mengasah penulis agar peka lingkungan sekitar untuk dijadikan inspirasi dalam menulis
|
· Cek persyaratan peserta untuk dapat mengikuti sesi interview
· Peserta diinterview satu persatu dalam ruangan yang steril untuk ditanyakan tentang: a) latar belakang dan motivasi mengikuti training, b) kesang-gupan mengerjakan tugas dalam training
· Peserta yang sang-gup mengerjakan tugas training diberi tugas: T-1. Hasil tugas dikumpulkan sebagai syarat me-ngikuti Training I
|
· T-1: Menulis pengalaman sehari-hari yang menarik (minimal 1 halaman per hari)
· Membawa buku bacaan kesukaan terbitan diatas 2000
|
|
Training I
“Membaca potensi diri”
|
· Peserta dapat menyadari bahwa dia mempunyai potensi menulis
· Peserta memahami bagaimana cara membaca dan mengulas buku kesukaannya
|
· Peserta me-ngumpulkan tugas T-1 sebagai syarat mengikuti training I
· Peserta ditanyakan mengenai pengalaman mengerjakan tugasT-1
· Peserta diberi materi tentang bagaimana cara book review
· Peserta diberi tugas T-2. Hasil tugas dikumpulkan se-bagai syarat me-ngikuti Training II
|
· T-2: menulis isi pokok buku kesukaan (book review)
|
|
Training II
“Mengasah potensi membuat karya penuh arti”
|
· Peserta mengetahui bagaimana cara membuat karya
· Peserta memahami bagaimana cara memilah dan memilih masalah untuk dikembangkan menjadi karya
|
· Peserta mengumpulkan tugas T-2 untuk dapat mengikuti Training II
· Peserta ditanyakan tentang isi pokok buku yang telah direview
· Peserta diberi materi tentang riset (penelitian) dan teknis penulisan buku/jurnal/artikel/cerpen/sastra dan sebagainya
· Peserta diberi tugas T-3, yakni untuk memilah dan memilih masalah yang paling menarik untuk dijadikan karya tulis dari tugas T-1 (pemilihan masalah ditentukan pada pertemuan ini)
· Hasil tugas dikum-pulkan sebagai syarat mengikuti Training III
|
· T-3: memilah dan memilih masalah yang paling menarik untuk dijadikan karya tulis dari tugas T-1
|
|
Training III
Implementasi karya penuh arti membuat jati diri tambah berarti
|
· Peserta mempunyai kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dalam membuat karya
|
· Mengumpulkan tugas T-3 dan dipresentasikan kepada dosen
· Hasil tugas dikumpulkan untuk diuji oleh tim penguji sebagai syarat mendapatkan sertifikat dan hadiah
|
· Presentasi karya yang telah dihasilkan
|
Busyet, mungkin ini kata yang keluar dari benak saya ketika mengetahui reaksi dari teman-teman tentang keinginan menulis. Banyak banget, ada 17 formulir pendaftar yang masuk, melebihi apa yang saya bayangkan. Idealnya peserta training menulis maksimal 10 peserta. Hal ini diukur dari keterbatasan sumber daya manusia yang melaksanakan program training, arah dan bentuk training yang masih belum sempurna, dan memang perlu untuk disempurnakan.
Dari reaksi yang bagus, langkah yang mungkin dilakukan adalah menyesuaikan antara reaksi dengan sumber daya yang ada, yakni membagi menjadi dua gelombang. Adapun langkah dalam proses pembagian kelompok menulis ini adalah menggunakan system penyaringan gugur yang diukur dari dua hal: (1) ketepatan waktu dalam tiap pertemuan materi, (2) ketepatan dalam mengumpulkan tugas yang telah diberikan instruktur. Apabila dalam pertemuan materi peserta terlambat hadir dan atau tidak mengumpulkan tugas, maka secara otomatis peserta tidak dapat mengikuti pertemuan berikutnya. Artinya, peserta tidak dapat melanjutkan dan gugur dalam mengikuti program training menulis gelombang I ini. Langkah ini diambil untuk menciptakan tantangan bagi peserta training. Adapun peserta training menulis kreatif gelombang I ini adalah sebagai berikut :
|
No
|
Nama
|
TTL
|
Alamat
|
|
1
|
Choirul Nisa’
|
Sda, 4/3/87
|
Mindi Porong Sidoarjo
|
|
2
|
Hasan Bashori
|
Pas, 1/10/86
|
Sekarmojo Purwosari Pas.
|
|
3
|
Kalimatul Zuhro
|
Sda, 22/6/89
|
Jeruklegi Balungbendo Sda.
|
|
4
|
Muhlisin
|
Mlg, 28/11/86
|
Srigading Lawang Malang
|
|
5
|
M. Syaikhuddin
|
Pas, 23/9/86
|
Genitri Sukorejo Pasuruan
|
|
6
|
Moh. Wardianto
|
Pas, 3/12/88
|
Gunung Gangsir Beji Pas.
|
|
7
|
Rif’atul Mar’ah
|
Sda, 8/6/90
|
Jabon Sidoarjo
|
|
8
|
Ragil Imroatul Z.
|
Blt, 24/7/89
|
Karanganom Nglegok Blt.
|
|
9
|
Syaifuddin
|
Pas, 14/9/86
|
Pucangsari Purwosari Pas.
|
|
10
|
Siti Zulaikha
|
Pas, 7/7/91
|
Pandaan Pasuruan
|
· Kisah Keluh Kesah Training Menulis
“Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya.
Sorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya”
(Kahlil Gibran)
Mampukah saya menulis dengan tempo waktu yang sangat singkat? Mungkin itu pertanyaan yang masih mengakar di otak kita masing-masing. Ternyata asyik juga mengikuti perkembangan peserta program training ini, ada yang optimis, tapi sepertinya banyak yang pesimis. Namun, yang lebih menarik adalah dengan kepesimisan mereka tentang kemampuan menghasilkan karya bukan berarti mereka tidak menghasilkan karya justru karena pesimis mereka terdorong membuat karya terbaik sesuai dengan kemampuannya.
Kondisi ini adalah tantangan tersendiri bagi saya (sebagai instruktur) dan pembimbing mereka (Zainal Abidin, Moh Nur Hasyim dan Achmad Mansur). Instruktur dan pembimbing harus mampu dan setia mendampingi perkembangan psikologi peserta training agar senantiasa memiliki jiwa dan ruh serta semangat menghasilkan karya walaupun kami sadar bahwa kami bukanlah ahli psikologi jiwa.
Dalam proses pendampingan dan pembimbingan peserta training, instruktur dan pembimbing tidak cukup hanya memberikan layanan dalam bentuk formal (konsultasi tatap muka) namun juga non formal dalam bentuk konsultasi melalui telpon, sms bahkan ‘mimpi’. Jadi 24 jam non stop selama satu bulan penuh instruktur dan pembimbing selalu terbayang-bayang pada peserta. Sebaliknya, apakah peserta juga terbayang-bayang kepada instruktur dan pembimbing? Tanyakan sendiri pada mereka…(he..3x…..capek deh).
Hasilnya luar biasa. Seandainya kami yang menjadi peserta training mungkin kami tidak akan mampu seperti mereka. Semangat dan perjuangan mereka dalam menghasilkan karya tidak cukup diacungi satu jempol kanan, namun jempol kiri bahkan ke-dua jempol kaki patut diacungkan secara bersama-sama untuk memberikan apresiasi tentang perjuangan dan semangat mereka.
Sebagai ilustrasi perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menghasilkan karya kami kutip beberapa dialog yang terangkum melalui sms :
Pembimbing : gimana prosesnya?
Peserta : waduh Mr bingung!
Pembimbing : Jadikan aja bingun itu inspirasi.
Peserta : Aduh sir.. kebingungan jadi obyek inspirasi? yang ada malah melayang-layang… ntah tau kemana… mau nulis sepi… tak ada hinggapan ide cemerlang… yang mencoret imajinasi berfikir… trus langkahku mau dibawah kemana.?
(disaat detik-detik pengumpulan terakhir karya tulis, mereka masih gigih berjuang)
Pembimbing : Gimana da finish ta?
Peserta : Waduh sir, ni kepala saya kayaknya semakin botak dan tangan saya kriting. Ampek g’ matrikulasi ni qt2. berikan solusi dong??
Pembimbing : Solusinya : ambil pena, mainkan imajinasi lalu di tulis ok!
Peserta : Pak karna hujan saya g’ bs ngumpulin tugasku gmn klo bsk pak? apa msh di terima? Kasih jawabannya pak.
Instruktur : g’ boleh. Kalo sebelum subuh. Kalo pagi2 (setelah shubuh-red) g’ apa2. saya tunggu karya terbaik sampean semua.
Ilustrasi diatas sudah bisa dibayangkan bagaimana kebingungan-kebingungan yang menghinggapi peserta training menulis, semangat mereka untuk keluar dari kebingungan-kebingungan, serta upaya instruktur dan pembimbing dalam memberi motivasi pada peserta training.
Untuk menyempurnakan karya dari peserta training, instruktur dan pembimbing secara bersama-sama menguji hasil karya setiap peserta. Desain ujian karya di format seperti layaknya Ujian Skripsi dalam perguruan tinggi. Satu peserta harus mempertanggung jawabkan karyanya untuk di sempurnakan kepada empat penguji. Uuuch serem… sebelum peserta training di uji, mereka di sumpah untuk mempertanggung jawabkan bahwa karya tulis mereka adalah asli dan bukan dari hasil plagiat.
Tujuan diadakan ujian karya tulis ini bukanlah untuk menghakimi, menyalahkan, atau melemahkan semangat peserta training, tapi untuk menyempurnakan karya tulis yang telah mereka hasilkan.
Alhamdulillah dalam waktu yang sangat singkat (10 hari), dari 10 peserta mampu menghasilkan karya 8 artikel, 9 cerpen, 3 novel, 1 antologi puisi, dan 1 buku.
Berbagai macam tema yang diangkat dalam karya tersebut, ada yang mengangkat tentang dunia kemahasiswaan, keorganisasian, kepesantrenan, sosial budaya, gender, agama, dan liku-liku kehidupan remaja.
Beragamnya tema yang diangkat oleh peserta training mengindikasikan peserta training sudah memahami berbagai ayat di sekitarnya yang perlu dijadikan inspirasi dalam berkarya. Mereka tidak tersekat dan tersaklet pada tema-tema tertentu.
Untuk merayakan awal perjalanan mereka, panitia me-wisuda peserta training menulis yang di selenggarakan pada hari Minggu tanggal 03 Februari 2008 di Hall Kampus Universitas Yudharta Pasuruan sebagai bentuk dan wujud apresiasi perjuangan mereka dalam mengikuti training menulis.
Adanya wisuda ini bukanlah tanda dari akhir karya menulis mereka, tetapi sebagai bentuk ketukan moral bahwa mereka baru memulai dan berjuang dalam membuat dan menghasilkan karya tulis yang lebih baik dan lebih bermutu.
· Membangun Mimpi Masa Depan Penulis ‘Saigon City’
Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang musti kamu ketahui…
kamu akan berada pada awal dari apa yang musti kamu rasakan…
(Kahlil Gibran)
Setelah wisuda lalu ngapain??? Mungkin itu adalah pertanyaan selanjutnya yang menghinggapi kita semua. Karena dari sinilah semua baru dimulai untuk mewujudkan mimpi imajiner, yakni terbentuknya komunitas penulis yang produktif di ‘Saigon City’.
Ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu dilakukan.
Yang pertama adalah bagaimana cara agar produktifitas menulis peserta training dalam membuat karya bisa meningkat.
PR yang pertama inilah yang paling berat. Karena di ‘Saigon City’ masih belum terciptanya kultur menulis melalui kesadaran sendiri. Mereka sebenarnya mempunyai potensi yang luar biasa apabila ada tantangan dan kemauan.
Yang kedua, media apa saja yang bisa menyalurkan hasil karya mereka.
Masih kurang maksimalnya media di ‘Saigon City’ yang bisa digunakan untuk menyalurkan karya tulis mereka serta akses ke media lain di luar ‘Saigon City’ adalah tantangan yang perlu dipecahkan bersama.
Di beberapa organisasi, baik di lingkungan santri, mahasiswa, lembaga pendidikan dari MI sampai Perguruan Tinggi, bahkan pesantren mempunyai media yang berfungsi menyalurkan hasil karya tulis ‘anak bangsa’ ini. Baik penerbitan bulletin, penerbitan majalah, penerbitan buku, majalah dinding, ataupun upload internet di media website (webblog, misalnya).
Hanya saja, yang mengisi media ataupun yang mengupayakan penerbitan media tersebut di ‘Saigon City’ masih dihandle oleh beberapa orang saja.
Hal ini karena masih belum banyak orang yang percaya diri dalam membuat karya tulis. Di samping itu, tidak semua paham bagaimana menyalurkan karya tulis yang sudah dibuat untuk diberikan kepada siapa, atau mau diapakan.
Selain itu, tidak banyak karya tulis yang telah dihasilkan di ‘Saigon City’ mampu menembus media luar, baik media massa maupun media penerbitan.
Oleh karena itu, upaya-upaya baik memaksimalkan media yang ada di ‘Saigon City’ maupun membuka akses media massa maupun media penerbitan merupakan hal yang perlu dipikirkan dan diupayakan akan bisa terwujud.
Yang ketiga, karena training ini didesain untuk tingkat basic, maka bagaimana cara meningkatkan kemampuan dasar mereka agar mereka mampu menjadi penulis hebat.
Banyak keilmuan yang perlu diasah dan dikembangkan. Peserta training menulis ini masih diasah untuk memunculkan potensi diri yang mereka miliki, namun belum diasah bagaimana memaksimalkan potensi yang telah ada.
Misalnya, selama ini peserta training dalam menulis masih banyak didasarkan atas pengalaman dan pengamatan pribadi. Mereka masih belum dibekali dalam membuat karya tulis berdasarkan data hasil riset.
Yang keempat, bagaimana mereka dapat terakomodir dalam sebuah komunitas penulis.
Dengan terbentuknya komunitas penulis, diharapkan banyak membantu para penulis muda untuk bisa saling mengasah antar anggota dalam bidang menulis. Selain itu, komunitas ini juga bisa berfungsi sebagai pusat informasi dan mediasi dengan lembaga penulis di luar ‘Saigon City’, serta banyak manfaat yang lain.
Tentunya, komunitas ini perlu dibangun tidak hanya sekedar kumpul, tetapi memang mampu memberikan manfaat yang besar baik kepada anggota komunitas maupun masyarakat sekitar, khususnya di ‘Saigon City’.
Itulah beberapa PR yang masih belum terwujud di ‘Saigon City’ ini. Melalui catatan kecil ini, penulis ingin mengajak kepada pembaca untuk bersama-sama memecahkan PR ini, karena penulis menyadari bahwa penulis ternyata masih ada batas-batas kekuatan yang tidak mampu penulis lakukan sendiri. Perlu i’tikad dan pemahaman bersama dari berbagai kalangan untuk bisa menciptakan mimpi imajiner ini.
C. EPILOG
Tak terasa, satu bulan lamanya training menulis yang pertama ini telah berlalu. Banyak suka dan duka yang telah tertanam dalam benak-benak peserta, instruktur, pembimbing dan tentunya panitia.
Akankah kenangan ini akan berlalu begitu saja??? Kami berharap tidak demikian. Semoga apa yang telah diperjuangkan oleh Pengurus Komisariat PMII Ngalah yang telah mampu mewujudkan training ini tidak hanya berhenti sampai disini. Jangan sampai ada tanda titik dalam perjuangan, namun yang ada hanya tanda tanya sehingga kita terus mencari jawabannya. Begitu petuah mbah Kacung. Berikanlah kesempatan bagi kita semua untuk tidak saling ‘berpisah’ agar kita bisa saling menyapa dalam asa dan karya….
Akhir kata…selamat berjuang…dan berkarya
Wallohul Muwafiq Illa Aqwamith Thorieq
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
‘Saigon City’, Minggu, 3 Februari 2008
02.00 WIB
Amang Fathurrohman, M.PdI