Lomba Penulisan Esai Tentang Pelestarian Film Indonesia Tahun 2008

Posted in Info Karya Tulis Ilmiah on Februari 11, 2008 by forumpenulisngalah


Ditujukan Kepada :

  1. Mahasiswa
  2. Pustakawan
  3. Masyarakat Umum

Uraian :
Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Sinematek Indonesia mengadakan lomba penulisan esai tentang pelestarian film Indonesia.

Topik/Tema Penulisan :
Pendapat, pandangan dan kritik terhadap pelestarian film di Indonesia.

Persyaratan Peserta :

  1. Mahasiswa, pustakawan dan masyarakat umum.
  2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Karyawan/identitas lain.
  3. Melampirkan daftar riwayat hidup.
  4. Melampirkan pas foto ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar.

Pelaksanaan Lomba :

  1. Esai dikirim kepada panitia melalui pos dan paling lambat tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
  2. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan diumumkan pada hari Rabu, 26 Maret 2008 di website Perpustakaan Nasional RI : http://www.pnri.go.id.
  3. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada acara Peringatan Hari Film Nasional ke-58 yang akan diselenggarakan pada akhir bulan Maret 2008.
  4. Esai terbaik akan dimuat dalam majalah Visi Pustaka terbitan Perpustakaan Nasional RI.

Tata Cara Pengiriman Essai :

  1. Peserta lomba dapat mengirimkan lebih dari satu essai;
  2. Panjang essai 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1 1/2, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12.
  3. Esai dikirim dalam bentuk cetak rangkap 2 (dua) dan disertai soft file berupa disket atau CD.
  4. Esai dikirim kepada panitia selambat-lambatnya tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
  5. Naskah lomba dikirimkan dalam sampul tertutup, pada sudut kiri atas dicantumkan kode “LPEPFI – 2008″, dan dialamatkan kepada Panitia Lomba Penulisan Essai tentang Pelestarian Film Indonesia melalui pos dengan alamat :

a/n MOHAMMAD FAJAR
Bidang Kerjasama Perpustakaan dan Otomasi
Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi
Perpustakaan Nasional RI
Jl. Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat

Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Telp. 021-3154864; 3154870; 3154862-63 pswt. 247
Faks. 021-3103554
Email : m_fajar@pnri.go.id atau ajangmf2000@yahoo.com

Kriteria Penilaian :

  1. Esai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan masyarakat, khususnya mengenai perfilman nasional;
  2. Isi esai harus asli bukan saduran atau terjemahan;
  3. Esai belum pernah/tidak sedang dilombakan;
  4. Esai belum pernah dipublikasikan di media apapun;
  5. Esai yang menjadi pemenang menjadi hak panitia lomba;
  6. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.

Hadiah :

  1. Juara I Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
  2. Juara II Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.
  3. Juara III Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
  4. Juara Harapan I Rp. 1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah).
  5. Hadiah dipotong pajak 15%.

Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh Persatuan Bangsa”

Posted in Info Karya Tulis Ilmiah on Februari 11, 2008 by forumpenulisngalah

Dalam rangka memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DKI Jakarta akan mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) dengan tema “Memperkokoh persatuan bangsa”.

Lomba terbuka untuk umum dengan syarat/ketentuan sebagai berikut :

  • Peserta harus melampirkan foto copy KTP/Kartu identitas lainnya.
  • Bahasa yang digunakan bahasa Indonesia EYD.
  • Naskah harus asli bukan terjemahan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan baik melalui media cetak maupun elektronik.
  • Setiap peserta paling banyak mengirim 2 (dua) buah naskah.
  • Naskah harus diketik dengan menggunakan Microsoft Word di atas kertas HVS ukuran kwarto dengan jarak 2 (dua) spasi, font ukuran 12 (duabelas).
  • Panjang naskah 1500–2000 kata dikirim rangkap 3 (tiga) disertai sebuah CD.
  • Naskah dikirim melalui Pos ke alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA paling lambat cap pos 15 Maret 2008.
  • Alamat PERHIMPUNAN INTI DKI JAKARTA : Superblok Megaglodok Kemayoran (MGK), Office Tower B lantai 10, Jl.Angkasa kav.B 6, Kota Baru Bandar Kemayoran. JAKARTA 10610.
  • Pada bagian kiri amplop harus ditulis Sayembara Menulis Cerpen INTI 2008.
  • Naskah yang tidak memenuhi syarat/ketentuan akan diabaikan.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat.
  • Duapuluh Cerpen terbaik akan diterbitkan dengan copy right milik Perhimpunan INTI DKI JAKARTA termasuk hak untuk menyunting judul dan isinya.
  • Hasil lomba akan diumumkan dalam suatu acara memperingati seabad hari Kebangkitan Nasional,Mei 2008 dan akan dipublikasikan melalui Website Perhimpunan INTI, majalah Suara Baru dan Sinergi.

Hadiah:

  1. Juara pertama uang sejumlah 5 (lima) juta rupiah.
  2. Juara kedua uang sejumlah 3 (tiga) juta rupiah.
  3. Juara ketiga uang sejumlah 2 (dua) juta rupiah.
  4. Juara harapan lima orang masing-masing 1 (satu) juta rupiah.

Informasi lebih lengkap : www.inti.or.id

JADWAL INTERVIEW TRAINING MENULIS GEL. II

Posted in Modul Training Menulis on Februari 10, 2008 by forumpenulisngalah

Di bawah ini adalah jadwal interview peseta Training Menulis Kreatif Gel. II yang akan dilaksanakan hari Jum’at s/d Minggu. Untuk selengkapnya dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut

Hari: Jum’at, 15 Pebruari 2008

No.

Nama

1.

M. Shoceh mas’udin

2.

Rosyidah Assyarifah

3.

Ach. Ridho

4.

Laili Uswatun Khasanah

5.

Nurul Hidayati

6.

Lailatul Muslimah

7.

Muslimin

8.

Sunjoto (o’ot)

9.

Achmad Farich

Hari : Sabtu, 16 Pebruari 2008

No.

Nama

1.

Abd. Qosim

2.

Cahya Bagus Sanjaya

3.

Marzuqi Jusuf

4.

M.Isma’il

5.

M.Muhsinin SY

6.

Helmy Lyana

7.

M. Hanafi

8.

Mas’ula

Hari : Minggu, 17 Pebruari 2008

No.

Nama

1.

Siti Mu’ayadah

2.

M. Afifuddin

3.

Bibi Maria Islam

4.

Chulatul Lutfi

5.

Yulistria Ulfa

6.

Nur hidayati

7.

Abdul Ghofar

8.

Miftachlu Umma

9.

Fajariana

10.

Kholishotun Nuroniyah

Catatan :

  1. Interview dimulai jam 09.00 BBWI
  2. khusus untuk Puput Dastari interview hari selasa, 12 Februari 2008 (16.00 BBWI)
  3. Peserta yang belum tercantum dalam jadwal harap menghubungi panitia (Syaifuddin)

    MEMANCING IDE: Trik Mencari Ide dalam Menulis

    Posted in Tips Menulis on Februari 10, 2008 by forumpenulisngalah


    Terkadang penulis pemula merasa sulit mencari topik tulisan. Dibawah ini ada trik untuk menemukan ide dalam menulis yang hasilnya bisa berderet tak henti-henti.

    Trik ini sesungguhnya sangat mudah. Modalnya hanya kata tanya APA dan BAGAIMANA SEANDAINYA.

    Buatlah daftar pertanyaan memakai kedua kata tanya tersebut, lalu tulislah jawabannya. Apapun jawaban yang spontan muncul di pikiranmu, catatlah dan coretilah dalam buku kesayanganmu, kemudian tulislah…, maka itulah draf ide untuk bisa anda kembangkan dalam menulis. Kalau sudah ada draf, langkah selanjutnya tinggal merevisi dan menambahkan draft yang sudah ada untuk dijadikan karya tulis anda.

    Di bawah ini beberapa pertanyaan dalam memancing ide dalam menulis.

     

    APA…

    ·         Apa hal yang paling kautakutkan ketika kanak-kanak? [Melihat petir di langit ataukah melihat polisi?]

    ·         Apa makna pacaran bagimu?

    ·         Apa hal yang paling kaubenci dari bosmu di kantor atau gurumu di sekolah?

    ·         Apa beda hari Jumat dan hari Minggu buatmu?

    ·         Apakah kau pernah berbohong pada istri/suami/orangtuamu, dan hal apakah itu?

    ·         Apa yang kaupilih: Hidup di gurun pasir atau gunung bersalju?

    ·         Apa syarat seorang sahabat yang baik?

    ·         Apakah kau sungguh-sungguh yakin bahwa surga itu ada ataukah hanya karena mengikuti doktrin/ajaran guru agama?

    ·         Apa acara tivi yang paling kaubenci?

    ·         Apa benda yang selalu kaukantongi bila keluar rumah?

    ·         Apa ucapan-ucapan Megawati dan Pramono Anung selama ini di media yang tidak kausukai?

     

    BAGAIMANA SEANDAINYA…

    ·         Bagaimana seandainya kau bertemu dengan hantu nenekmu?

    ·         Bagaimana seandainya matahari muncul selama hanya dua jam per hari?

    ·         Bagaimana seandainya tidak ada televisi, kaset lagu, dan radio?

    ·         Bagaimana seandainya Tuhan menciptakan mulut manusia di dekat pantat, dan dubur diletakkan di sekitar leher? [Pacarmu takkan mau mencium bibirmu.]

    ·         Bagaimana seandainya Adam dan Hawa masih hidup di zaman modern ini?

    ·         Bagaimana seandainya matamu mampu melihat secara tembus-pandang ke balik baju setiap orang; apa saja yang akan kaulakukan dengan kelebihanmu itu?

    ·         Bagaimana seandainya kau dipromosikan jadi bos di kantormu, siapa yang duluan kaupecat?

    ·         Bagaimana seandainya tidak ada tanda baca titik?

    ·         Bagaimana seandainya kau gila?

    Daftar pertanyaan untuk mencari ide postingan blog seperti di atas bisa juga memakai kata tanya MENGAPA atau SIAPA.

    Mulailah membuat daftar sejenis, tentu dengan versimu sendiri. Setiap pertanyaan yang muncul langsung dijawab dengan spontan, dan lebarkan opinimu dari jawaban awal. Apabila anda berhasil dalam mengembangkan ide tulisan dari kata kunci APA, BAGAIMANA SEANDAINYA dan atau MENGAPA, SIAPA, maka sesungguhnya anda sudah menemukan ide awal untuk memulai menulis. Untuk lebih menyempurnakan dari tulisan tersebut, pertanyaan LALU BAGAIMANA juga bisa anda gunakan dalam mengembangkan ide tulisan yang sudah ada.

    Kalau belum berhasil juga untuk mulai menulis, jangan cepat menyerah, coba lagi. Panjangkan fantasimu sejauh mungkin. Teruslah mencoba.

    Tetap tidak bisa? Berehatlah, matikan komputermu, lalu coba lagi besok atau lusa. Belum bisa? Coba lagi minggu depan.

    Tidak berhasil juga? Coba lagi dan benamkan niat dalam menulis, karena niat anda yang masih belum kuat dalam menulis.

     

    Sumber : diolah dari www.blogberita.com

    TUGAS I: Syarat dalam Technical Meeting

    Posted in Modul Training Menulis on Februari 10, 2008 by forumpenulisngalah

    Technical Meeting : 10 Februari 2008

    Seluruh peserta Training Menulis Kreatif gelombang II, kami informasikan tentang syarat dan ketentuan dalam proses pelaksanaan Training ini, yakni :

    1. Seluruh peserta datang tepat waktu dalam acara technical meeting di Hall Utama PMII Komisariat Ngalah pada tanggal 10 Pebruari 2008 Jam 09.00 WIB. Apabila terlambat maka peserta akan gugur mengikuti training gelombang II dan akan diikutkan dalam training gelombang III bulan depan. Apabila berhalangan hadir harus ada keterangan ketidakhadiran.
    2. Sistem yang digunakan dalam training ini adalah sistem gugur. Apabila tidak mengikuti pertemuan yang telah dijadwal, atau tidak hadir tanpa ada keterangan, atau tidak mengumpulkan tugas, maka secara otomatis peserta tidak dapat melanjutkan Training Gelombang II dan akan diiukutkan dalam training gelombang III.
    3. Peserta harus memenuhi tugas yang diembankan instruktur kepada peserta training tanpa ada toleransi apapun (mohon maaf, ini demi kualitas peserta itu sendiri). Apabila tidak memenuhi standar, maka peserta dianggap gugur dalam gelombang II dan akan diiukutkan dalam gelombang III
    4. Selama proses training ini, ada beberapa materi yang harus dilalui oleh peserta, untuk lebih jelas tentang materi training, silahkan baca artikel “Catatan [Menulis] Yang Berserakan”. dan peserta wajib hadir pada waktu pemberian materi sebagaimana yang telah dijadwalkan pada technical meeting.
    5. Untuk syarat yang harus dipenuhi materi selanjutnya (Interview) adalah : setiap peserta wajib membawa (1) Buku Tulis Kesayangan [bisa berbentuk diare, buku tulis, agenda, dan sebagainya], (2) Membawa Bulpoint Kesayangan, (3) Membawa Uang antara 10.000 s/d 30.000, (4) Mempunyai Niat Tulus dalam Mengikuti Training, (5) Datang tepat waktu sebagaimana jadwal yang telah ditentukan.

    Demikian tugas ini dibuat, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

    Instruktur

    Amang Fathurrohman, M.PdI

    TENTANG TRAINING MENULIS KREATIF

    Posted in Modul Training Menulis on Februari 10, 2008 by forumpenulisngalah

    Training Menulis Kreatif adalah kegiatan yang mengkhususkan untuk mengasah insan muda generasi bangsa Indonesia dalam olah pikir untuk ditransformasikan dalam bentuk tulisan.

    Sekolah Training Menulis Kreatif yang diselenggarakan oleh PMII Ngalah Universitas Yudharta ini sudah dimulai sejak tanggal 28 Desember 2007 dan berakhir tanggal 3 Pebruari 2008 untuk gelombang I dengan jumlah 10 peserta. Untuk gelombang II dibuka kembali pada tanggal 10 Pebruari 2008 dan diperkirakan berakhir pada pertengahan bulan Maret 2008 dengan jumlah 30 peserta.

    Hasil karya peserta akan dipublikasikan melalui situs ini, dan juga diupayakan untuk diterbitkan oleh fp-ngalah press dan dipromosikan ke penerbit dan media massa di Indonesia.

    Untuk memudahkan dalam pencarian, maka kami mengkategorikan kasil karya peserta training dalam beberapa kategori, yakni; Artikel, cerpen, novel, puisi dan riset.

    Khusus bagi peserta ‘Training Menulis Kreatif’ dapat mengakses tugas yang diberikan instruktur training dengan mengklik kategori “Modul Training Menulis”

    HONDA WRITING FEVER COMPETITION

    Posted in Info Karya Tulis Ilmiah on Februari 9, 2008 by forumpenulisngalah

    Kategori dan Tema Karya Tulis:

    * Kategori Jurnalis

    •   Sepeda motor Honda sebagai industri motor terbesar di Indonesia.
    •   Kontribusi industri sepeda motor Honda di Indonesia.
    •   Keselamatan berkendara adalah hal yang utama.

    * Kategori Pelajar SMA

    •   Iklan Honda yang santun dan beretika.
    •   Sepeda motor yang sesuai dengan selera anak muda.

    * Kategori Mahasiswa/i

    •   Sepeda motor Honda yang berteknologi tinggi dan ramah lingkungan.
    •   Keselamatan & kenyamanan etika berkendara.

    * Kategori Umum

    •   Sepeda motor Honda sebagai sahabat dalam kehidupan sehari-hari.
    •   Sepeda motor Honda bagian dari hidup.

    Kriteria Karya Tulis:

    • Karya tulis yang dikirimkan harus memiliki orisinilitas ide.
    • Karya tulis diketik di kertas A4, min. 5, maks. 10 lembar.
    • Tulisan diketik dengan jarak 1,5 spasi dengan menggunakan font Tahoma ukuran 11.
    • Area pengetikan adalah kiri 2 cm, kanan 2 cm, atas 2 cm, bawah 2 cm.
    • Untuk pengiriman tulisan melalui website, format file yang diperbolehkan adalah PDF dan DOC dengan ukuran file maksimal 500kb.
    • Apabila tulisan dibuat oleh lebih dari satu orang atau team, hadiah yang diberikan diatasnamakan perangkum tulisan atau nama pertama yang ada dalam team tsb.
    • Tiap peserta hanya dapat memenangkan satu hadiah.

    Persyaratan & Penjurian:

    • Peserta diwajibkan melampirkan fotokopi KTP/Kartu Pelajar/KTM/Kartu Pers.
    • Menyertakan no. telepon, alamat tempat tinggal sekarang dan email di selembar kertas.
    • Karya ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
    • Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu karya tulis. Karya tulis merupakan karya asli yang belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis/dipublikasikan.
    • Khusus untuk kategori Jurnalis, tulisan/artikel yang diikutsertakan sudah dimuat di media cetak periode 4 – 28 Februari 2008 dan dikirim dalam bentuk asli.
    • Semua materi tulisan yang dikirim peserta menjadi hak panitia.
    • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
    • Kompetisi ini tidak berlaku untuk karyawan dan keluarga AHM, main dealer/dealer dan agensi.

    Pemenang lomba akan diumumkan di harian Kompas pertengahan Maret 2008

    Buat karya tulis yang terpilih menjadi pemenang, kamu bisa memenangkan:

    • Juara I : Honda Tiger* + Trophy + Sertifikat
    • Juara II : Honda Supra* X 125 + Trophy + Sertifikat
    • Juara III : Honda Fit X* + Trophy + Sertifikat

    * Off the road

    Segera kirimkan karya tulismu sebelum 29 Februari 2008 ke PO BOX 2314 Jakarta, 10023 atau bisa juga di-upload lewat www.hondawriting.com!

    Posted in Artikel on Februari 8, 2008 by forumpenulisngalah

    VALENTINE DAYS DAN ORGANISASI:

    Antara Kausalitas dan Peran Organisasi

    Oleh : Amang Fathurrohman, M.PdI

     

    Pengantar

    Bunga14 Februari, atau yang lebih dikenal dengan Valentine Days/Vide (vide, sebutan penulis agar mudah diucapkan dan tampak lebih keren), satu tanggal yang mempunyai moment tersendiri khususnya bagi para remaja, satu moment yang istimewa (special), bahkan cenderung disakralkan untuk menjadi hari “kisah cinta umat manusia”.

    Tidak tahu siapa yang memulai “mensakralkan” vide, yang jelas seluruh dunia seakan terhipnotis untuk melakukan acara “ritual” kasih sayangnya pada hari tersebut. Banyak para remaja yang membuat “kado”, hadiah yang spesial atau membuat “prasasti” dengan simbol-simbol hati sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada doinya. Tidak sedikit juga yang menjadi pujangga dadakan yang menyusun kata-kata dengan sangat puitisnya yang tidak kalah dengan pujangga ternama sekelas Kahlil Gibran, Jalaludin ar-Rumi, maupun pujangga Indonesia sekelas Khairil Anwar. Orang yang membaca karya pujangga dadakan ini pasti akan terbuai oleh kata-katanya.

    Lalu bagaimana bila merayakan Vide dalam sebuah organsiasi, apakah ada hubungannya antara Vide dengan organisasi? Bagaimaa kalau dipandang dalam perpektif nilai-nilai yang terkandung dalam Vide untuk dikejawantahkan dalam organsiasi? Sebelum mendiskusikan semua itu, maka alangkah afdhol-nya bila memulai dari sisi historisnya, sehingga pemaknaan tentang Vide diharapkan lebih komprehensif.


    Historis Vide

    Sebenarnya banyak versi mengenai asalnya hari Valentine itu. Dalam (www.cintakasih.itgo.com, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004) mengatakan bahwa agama Katholik pernah mempunyai tiga Santo Valentine yang kesemuanya merupakan martir dalam martirologi di bawah tanggal 14 Feberuari. Yang pertama merupakan seorang Pastur di Roma, yang kedua merupakan Bishop dari Interamna (Terni modern), dan yang terakhir melayani masyarakat di Afrika. Nah, hari Valentine berasal dari Hari Santo Valentine ini, namun tidak begitu banyak informasi maupun nilai-nilai sejarah tentang ketiga Santo Valentine ini.

    Namun versi yang terkenal tentang asal muasal valentine days dimulai dari cerita pada awal abad keempat sebelum masehi (ada juga versi yang menyebutkan pada abad pertengahan-penelitian), bangsa Romawi biasa mengadakan pesta bagi salah satu dewa mereka yaitu Lupercalia (Lupercus). (http://users.bigpond.net.au/shalom/ab/artikel/valentine.html, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004). Pesta Lupercalia ini dilaksanakan suatu acara untuk mencari jodoh.

    Perayaan ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari, bersamaan dengan musim kawin burung, sehingga pada perayaan tersebut digambarkan bagaimana burung-burung berpasangan mencari pasangannya yang menambah nilai simbolis dari perayaan tersebut. Pada sumber yang lain (http://cintakasih.itgo.com/info_cinta_Sejarah_Valentine_Day.htm, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004) mengatakan bahwa pada tanggal 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno di masyarakat Romawi kuno. Juno adalah ratu para dewa dan dewi Romawi. Dia juga dikenal sebagai Dewi Para Perempuan dan Perkawinan. Hari berikutnya, 15 Februari, baru diadakan festival Lupercalia

    Pada acara tersebut (yang digunakan untuk mencari jodoh), dilakukan dengan cara yang unik, yakni para gadis menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Para pemuda yang hadir akan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Gadis yang terpilih akan menjadi pasangan pemuda tersebut sampai pesta Lupercalia yang berikutnya.

    Cara jodoh-jodohan dalam pesta Lupercalia yang telah berlangsung selama 800 tahun ini ditentang oleh fihak gereja yang ada di Roma. Alasannya, hal ini merupakan perayaan kafir yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Pada tahun 270 SM, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine, memulai kembali kebiasaan ini dengan cara berbeda.

    Kaisar Roma yang berkuasa pada masa itu adalah Claudius II. Kaisar yang kejam, Ia memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah. Pemberlakuan peraturan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia juga berasumsi bahwa bala tentaranya akan menjadi semakin besar dan kuat, jika tentaranya tidak menikah, Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara.

    Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki kawin (http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000032.html, di download pada tanggal 2 Pebruari 2004)

    Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Uskup Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia. Secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan muda-mudi yang saling jatuh cinta untuk dinikahkan.

    Hal ini diketahui oleh sang Kaisar, dan ia marah besar. Akibatnya, uskup Valentine ditangkap dan dipenjarakan. Ia harus menyembah dewa orang Romawi jika tidak ingin dihukum. Valentine dengan keras menampik tawaran itu. Akhirnya, pada tanggal 14 Februari tahun 270 SM, ia dipukuli, dilempari batu dan akhirnya dipenggal. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia. Jadi, untuk mengenang jasa dan pengorbanan Santo Valentine serta menghormati tradisi rakyat, para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sekarang ini, hari tersebut lebih dikenal sebagai hari Valentine (http://cintakasih.itgo.com, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004)

    Saat ia berada di penjara, Valentine berhasil menyembuhkan mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang teguh dan kasihnya yang besar. Sebelum ia menghadapi saat terakhirnya, Valentine menulis sebuah kalimat “From Your Valentine” kepada gadis itu. Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari Valentine.

    Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine yang sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 M untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang di penjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

    Hari Valentine memang ditandai dengan kartu, gambar hati, warna merah muda dan Cupid. Cupid adalah malaikat kecil bersayap yang selalu membawa panah asmaranya ke mana-mana. Dia sering dipakai untuk lambang cinta di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut Mitologi Romawi, Cupid adalah anak laki-laki Dewa Venus, Dewa Cinta dan Kecantikan. Kalau orang tuanya saja Dewa Cinta, ya tidak heranlah kalau anaknya jadi lambang cinta … (habis mukanya juga imut-imut dan menggemaskan, sih !)

    Dan ada kepercayaan bahwa pada malam menjelang Valentine, apabila Anda makan telur rebus dua buah dan mempelkan lima daun salam di bawah bantal, pasti Anda akan bisa bertemu dan bermimpi dari orang yang Anda kasihi. (Ada-ada azah yach…..)

    Bervalentine dan Organisasi; Antara Kausalitas dan Peran Organisasi

    Apabila melihat dari historis Vide di atas, ada pertanyaan yang mendasar ketika mencoba menautkan dan mengkorelasikannya dengan sebuah organisasi, yakni apakah mungkin Vide bisa dilakukan dalam sebuah organisasi kepemudaan atau organisasi santri dalam pesantren???

    Apabila menganalisa historis pada perspektif syar’i-nya, maka organisasi yang erat hubungannya dengan vide di Indonesia adalah KUA sebagai salah satu lembaga formal negara yang mengurusi tentang “perjodohan” sebagaimana yang dilakukan oleh Santo Valentine pada masa Kaiser Claudius II yang “menjodohkan” (menikahkan), walau tidak menutup kemungkinan -misalnya- ORDA SUROPATI mengadakan nikah massal di Pesantren Ngalah ini sebagai apresiasi adanya Vide, untuk meminimalisisr budaya pojok kampung (pacaran di pojok ruangan) yang masih dianggap tabu.

    Bila melihat pada sisi haqiqi atau nilai-nilai yang terkandung dalam Vide sebagai simbol “hari kasih sayang”, maka harus dilihat dahulu pemaknaan dari arti kasih sayang tersebut. Hal ini sangat penting, karena kata kasih sayang merupakan kata yang mempunyai efek yang sangat besar terhadap perilaku manusia, apalagi jika ditautkan dengan sebuah organisasi.

    Kita tahu bahwa organisasi adalah sistem dari kelompok orang yang bekerja sama dalam melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Kelompok orang disini berarti adalah sekumpulan dari individu yang mempunyai visi dan misi yang sama dan terikat oleh sistem organisasi. Agar sistem dalam organisasi dapat terlaksana dengan baik maka di dalamnya membutuhkan satu komunikasi yang efektif antar individu dalam organisasi untuk kepentingan kelompok orang (baca: organisasi) yang ditandai dengan adanya kerjasama dalam mencapai tujuan organiasi, bukan untuk kepentingan individu. Salah satu untuk menjaga agar komunikasi di dalam organisasi tetap efektif adalah dengan “komunkasi kasih sayang” yang digunakan pengurus kepada anggota, anggota kepada anggota, maupun anggota kepada para pengurusnya untuk kepentingan organisasi.

    Apabila dikaitkan dengan Vide, maka momentum “hari kasih sayang” ini bisa digunakan dalam organisasi ketika masih di dalam frame membangun sebuah komunikasi yang efektif antar komponen organisasi untuk kepentingan dan kemaslahatan, serta eksistensi dari organisasi itu sendiri. Bagaimana bentuk dan caranya untuk memanfaatkan momentum Vide agar organisasi bisa eksis itu tergantung dari kreativitas dari para pengurus maupun anggota organisasi itu sendiri.

    Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika momentum Vide ini digunakan oleh personal/individu organsiasi dengan membawa nama besar organisasi atau fasilitas organisasi untuk kepentingannya sendiri dengan dalil “mengejewantahkan kasih sayang”. Misalnya para pengurus organisasi yang menggunakan uang kas organsiasi untuk mengungkapkan kasih sayangnya (dengan membeli kado, kartu valentine, sekuntum mawar ataupun surat cinta yang super lux) pada sang pacar. Atau pengurus yang melakukan “pendekatan personal” karena cantik atau tampan dengan dalih pengkaderan.

    Bukannya haram pacaran di dalam organisasi, asal mengetahui mana untuk individu dan mana untuk kepentingan organisasi, serta tahu tempat dan waktu, serta tetap dilandasi dengan tata aturan yang berlaku baik norma masyarakat, lembaga, maupun agama maka hal itu bukan menjadi satu persoalan utama. Bahkan momentum Vide ini bisa digunakan oleh sang doi untuk mensupport pasangan hidupnya (yang menjadi pengurus organisasi) agar lebih eksis lagi dalam organisasi.

    Demikian sedikit tulisan tentang Vide dan organisasi yang dapat kami uraikan untuk menjadi hantaran diskusi, semoga bermanfaat.

    Selamat datang

    Posted in Uncategorized on Februari 6, 2008 by forumpenulisngalah

    Website ini merupakan kumpulan tulisan dari hasil Training Menulis yang diselenggarakan oleh warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Ngalah Universitas Yudharta Pasuruan yang dimulai sejak Januari 2008.

    Genre yang ditulis oleh penulis muda Ngalah ini cukup beragam, mulai dari puisi, cerpen, novel, artikel, maupun buku ilmiah.

    Semua berangkat dari rasa keinginan yang besar untuk bisa mengekspresikan apa yang tercetak dan terbenam dalam pikiran. Walaupun awalnya minder dan tidak percaya diri dalam menusil, namun tulisan yang anda baca dalam website ini adalah karya orisinil penulis muda Ngalah… Apakah bagus, berkualitas, atau sebaliknya… semua kami serahkan kepada pembaca semua.

    Kami berusaha memberikan yang terbaik bagi anda semua…

    Posted in Artikel on Februari 6, 2008 by forumpenulisngalah

    Catatan [Menulis] Yang Berserakan:

    Mewujudkan Mimpi Komunitas Penulis di ‘Saigon City’

     

    A. PROLOGUE

    Catatan ini dibuat untuk mewujudkan sebuah “mimpi imajiner”, yakni keinginan untuk membentuk sebuah komunitas yang mampu dan mempunyai keahlian dalam menulis. Untuk memulai mimpi ini, alhamdulillah telah terlaksana dengan baik, karena ikhtiar bersama dari teman-teman seperjuangan, khususnya PMII Ngalah yang terwujud dalam bentuk Training Menulis pada tanggal 28 Desember 2007 – 3 Februari 2008.masa training

    Kenapa harus bermimpi tentang menulis? Ada beberapa rasionalisasi mengapa menulis mempunyai nilai lebih, diantaranya:

    Pertama, sebagai media transformasi dari alam pikiran menjadi alam tulisan yang mampu dibaca oleh orang lain. Dalam hal ini, dapat membayangkan bagaimana fungsi computer yang mampu mengolah kata dan data, namun akan lebih berarti apabila hasil olah data dan kata tersebut di print out menjadi data tertulis sehingga dapat dibaca walaupun listrik padam sekalipun. Begitu juga dengan anak manusia, hasil olah pikir manusia akan dapat memiliki arti dan kekuatan apabila hasil pemikirannya dapat tertuang dalam tulisan, sehingga dapat dipelajari oleh anak manusia yang lain.

    Kedua, orang yang terbiasa menulis maka sesungguhnya dia tidak hanya mampu untuk mengolah apa yang ada dibenaknya, tetapi lebih dari itu, dia akan mampu menganalisa dan peka terhadap peristiwa yang terjadi disekitarnya. Walaupun persitiwa pada umumnya tidak menjadi suatu hal yang menarik bagi khalayak umum, namun bagi dia akan mampu untuk melihat dari hal yang biasa menjadi hal yang luar biasa, tentunya dengan sudut pandang tertentu yang telah terasah.

    Ketiga, tulisan bukanlah benda mati yang terdiri dari huruf-huruf yang terjejer dengan kaidah tertentu sehingga menjadi kalimat yang bisa dibaca. Tetapi, tulisan adalah sebuah roh yang mampu memberikan kehidupan dan warna, yang mampu memberikan 1000 makna, dan yang mampu menggerakkan orang menjadi lebih berguna bagi sesama.

    Ketua KomKeinginan untuk membentuk komunitas ini bukanlah hal yang muluk-muluk, dan juga bukan hal yang tidak mungkin. Tetapi bila tidak ada greget dan movement maka mimpi ini tidak akan menjadi nyata. Untuk mewujudkan mimpi imajiner di ‘Saigon City’ ini pasti akana berhadapan dengan halang rintang dan problem yang akan menghadang, namun apabila berhasil diwujudkan maka diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk melestarikannya sehingga tidak hanya berhenti pada jenjang formalitas, tetapi bisa mengkultur pada strata yang lebih mendasar.

    Untuk memulai memahat karya mimpi ini, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yakni :

    1. Membaca potensi komunitas yang bisa diajak untuk membentuk komunitas menulis.

    2. Mulai mewacanakan tentang pentingnya menulis dan menunggu reaksi sasaran tentang wacana yang dikembangkan

    3. Apabila reaksi positif, maka segera membuat perangkat untuk bisa menopang terlaksananya dari wacana yang dikembangkan, misalnya membuat training menulis

    4. Apabila dari hasil training mempunyai kekuatan untuk dipublikasikan, maka alangkah baiknya mencari media yang bisa menampung karya tulis mereka. Apabila tidak memungkinkan atau masih sulit dilaksanakan, membuat media sendiri adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan, misalnya bulletin atau diposting dalam webblog

    5. Untuk menjaga kesinambungan dan tetap terjaganya potensi menulis, maka perlu dibentuk satu komunitas yang bisa mengcovernya. Komunitas ini tidak harus berbentuk formal, namun komunitas ini perlu dicari format yang fleksibel dan mampu mengakomodir serta mentransformasikan ke dalam media yang ada.

    Langkah-langkah di atas adalah langkah yang masih abstrak, karena hal tersebut masih belum pernah dilaksanakan, khususnya di ‘Saigon City’ ini.

     

    B. MENUJU MIMPI

    Aku tak pernah dapat memikirkan rencana mendetail tentang apa yang akan terjadi di masa depan…

    Aku hanya mengatakan, aku akan berjuang…

    Siapa yang tahu, aku akan sampai dimana?

    (Richard Stallman)

    · Membaca Potensi Komunitas

    Pada prinsipnya, sasaran komunitas dalam kontek ini tidak memandang umur, jenis kelamin, dan strata, serta domisilinya. Semua mempunyai potensi yang sama. Tinggal bagaimana cara mengolahnya.

    Untuk mempermudah dalam mengelola dan memantau hasil yang telah didapat, maka prinsip semakin spesifik sasaran, semakin mudah dalam pengelolaan, dan semakin efektif dalam pelaksanaan. Berangkat dari prinsip tersebut, ada beberapa sasaran yang ada di ‘Saigon City’ yang perlu dilirik untuk dipilih, diantaranya :

    - Komunitas pesantren

    - Komunitas siswa

    - Komunitas mahasiswa

    Dari ketiga komunitas diatas, maka komunitas mahasiswa yang paling memungkinkan untuk dibidik. Ada beberapa latar belakang mengapa komunitas mahasiswa lebih mempunyai potensi, diantaranya: 1) Komunitas ini mempunyai pemikiran yang lebih homogen. 2) Tingkat kebutuhan untuk bisa menulis yang tinggi, karena tuntutan dari tugas mahasiswa yang harus mampu untuk menulis, khususnya membuat makalah. 3) Nilai gengsi. Dalam dunia mahasiswa, apabila tidak mampu dalam menulis maka dia termasuk mahasiswa yang underlimit. Mahasiswa dibawah standar. Begitu juga sebaliknya, apabila mahasiswa tersebutorasi-ilmiah.jpg mempunyai kemampuan, khususnya dalam bidang menulis maka dengan sendirinya strata kemahasiswaannya semakin tinggi dan diakui sebagai mahasiswa yang overlimit. Apalagi jika hasil tulisannya mampu dibuktikan dengan penerbitan buku atau mampu menembus media massa tingkat nasional, misalnya Kompas, Jawa Pos, dan sebagainya.

    Dari latar belakang tersebut, komunitas mahasiswa ini pun masih perlu untuk dispesifikasikan. Apakah mahasiswa baru (maba) atau mahasiswa lama. Dari hasil perbandingan maka mahasiswa baru adalah sasaran empuk untuk menjadi lahan garapan, perbandingan ini didasarkan pada potensi, keinginan yang tinggi, keingintahuan dalam mengembangkan wacana dan kemampuan mereka dibidang akademis yang masih relative rendah. Tetapi dalam perkembangannya tidak dimungkinkan untuk menolak mahasiswa yang lama untuk bergabung dalam karya imajiner ini.

     

    · Mewacanakan dan Reaksi Wacana Tentang Pentingnya Menulis.

    Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

    Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam…

    (Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq: 3-4)

    Dalam mewacanakan mimpi karya imajiner ini tidaklah begitu sulit, karena memang kultur gesekan intelektual di ‘Saigon City’ sudah tercipta dengan bagus. Mahasiswa di ‘Saigon City’ secara cultural dan tanpa disadasari telah membuat cangkru’an wedang kopi. Cangkru’an dalam hal ini sering dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berinteraksi dan berdiskusi, baik tentang perkembangan kampus, perkembangan kegiatan mahasiswa, perkembangan pesantren, kadangkala politik, sosial dan budaya serta agama juga menjadi santapan pendamping dalam cangkru’an tersebut.

    Karena penulis juga menjadi aktifis cangkru’an, maka untuk menuangkan ide-ide imajiner ini kepada sesama teman cangkru’an juga tidak menjadi persoalan yang berat. Dan walhasil, ternyata ide-ide imajiner ini disambut dan diseriusi oleh PMII Komisariat Ngalah untuk mencoba diwujudkan.

    Waduh, kok beneran nih..? bagaimana konsepnya..? materi yang disampaikan apa..? terus yang menanganin siapa..? itu adalah beberapa pertanyaan yang muncul pada saat itu. Melihat reaksi yang positif serta I’tikad baik yang memang harus diwujudkan, maka saya pun secara cepat mencoba untuk membuat grand concept training menulis berdasarkan dari pengalaman mengikuti organisasi serta perkuliahan di pascasarjana.

    TestimoniWalhasil, akhirnya grand concept tersebut jadi juga. Dalam imajinasi saya, menuanagkan ide pikiran dalam hal menulis, tidak sesimple ketika menuangkan ide dalam bentuk bicara. Oleh karena itu, menulis memang harus dilatih agar apa yang ada dalam ide pikiran dalam tertransformasikan dengan baik dalam bentuk tulisan. Karena prosesnya harus berlatih, maka peserta tidak akan dapat memiliki keahlian menulis jika dia tidak melatih menulis secara terus menerus. Pemberian materi secara kognitif, bukanlah jaminan bahwa peserta akan memiliki kemampuan menulis. Oleh karena itu, rancangan materi training ini memang harus memberikan kesempatan kepada peserta untuk selalu menulis. Materi dalam forum lebih banyak berfungsi sebagai materi pengarah dan motivasi. Sedangkan training yang sesungguhnya ketika peserta berada dalam lingkungan mereka (penugasan rumah). Adapun materi dalam training ini adalah sebagai berikut:

    Materi

    Tujuan

    Teknik

    Bentuk Tugas

    Technical Meeting

    Memberikan penjelasan tentang aturan dan syarat yang dipenuhi oleh peserta training

    · Peserta diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan training

    · Peserta diberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mengikuti sesi interview

    · Membawa sejumlah uang sebagai jaminan

    · Membawa alat tulis yang paling disukai (agenda, buku tulis, atau kertas HVS)

    Interview

    Dan penugasan menulis

    Penulis untuk pemula

    · Menegaskan keseriusan peserta dalam mengikuti training

    · Mengetahui latar belakang mengikuti training

    · Memberikan arahan dan motivasi dalam proses training

    · Mengasah penulis agar peka lingkungan sekitar untuk dijadikan inspirasi dalam menulis

    · Cek persyaratan peserta untuk dapat mengikuti sesi interview

    · Peserta diinterview satu persatu dalam ruangan yang steril untuk ditanyakan tentang: a) latar belakang dan motivasi mengikuti training, b) kesang-gupan mengerjakan tugas dalam training

    · Peserta yang sang-gup mengerjakan tugas training diberi tugas: T-1. Hasil tugas dikumpulkan sebagai syarat me-ngikuti Training I

    · T-1: Menulis pengalaman sehari-hari yang menarik (minimal 1 halaman per hari)

    · Membawa buku bacaan kesukaan terbitan diatas 2000

    Training I

    Membaca potensi diri

    · Peserta dapat menyadari bahwa dia mempunyai potensi menulis

    · Peserta memahami bagaimana cara membaca dan mengulas buku kesukaannya

    · Peserta me-ngumpulkan tugas T-1 sebagai syarat mengikuti training I

    · Peserta ditanyakan mengenai pengalaman mengerjakan tugasT-1

    · Peserta diberi materi tentang bagaimana cara book review

    · Peserta diberi tugas T-2. Hasil tugas dikumpulkan se-bagai syarat me-ngikuti Training II

    · T-2: menulis isi pokok buku kesukaan (book review)

    Training II

    “Mengasah potensi membuat karya penuh arti”

    · Peserta mengetahui bagaimana cara membuat karya

    · Peserta memahami bagaimana cara memilah dan memilih masalah untuk dikembangkan menjadi karya

    · Peserta mengumpulkan tugas T-2 untuk dapat mengikuti Training II

    · Peserta ditanyakan tentang isi pokok buku yang telah direview

    · Peserta diberi materi tentang riset (penelitian) dan teknis penulisan buku/jurnal/artikel/cerpen/sastra dan sebagainya

    · Peserta diberi tugas T-3, yakni untuk memilah dan memilih masalah yang paling menarik untuk dijadikan karya tulis dari tugas T-1 (pemilihan masalah ditentukan pada pertemuan ini)

    · Hasil tugas dikum-pulkan sebagai syarat mengikuti Training III

    · T-3: memilah dan memilih masalah yang paling menarik untuk dijadikan karya tulis dari tugas T-1

    Training III

    Implementasi karya penuh arti membuat jati diri tambah berarti

    · Peserta mempunyai kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dalam membuat karya

    · Mengumpulkan tugas T-3 dan dipresentasikan kepada dosen

    · Hasil tugas dikumpulkan untuk diuji oleh tim penguji sebagai syarat mendapatkan sertifikat dan hadiah

    · Presentasi karya yang telah dihasilkan

    Busyet, mungkin ini kata yang keluar dari benak saya ketika mengetahui reaksi dari teman-teman tentang keinginan menulis. Banyak banget, ada 17 formulir pendaftar yang masuk, melebihi apa yang saya bayangkan. Idealnya peserta training menulis maksimal 10 peserta. Hal ini diukur dari keterbatasan sumber daya manusia yang melaksanakan program training, arah dan bentuk training yang masih belum sempurna, dan memang perlu untuk disempurnakan.

    Dari reaksi yang bagus, langkah yang mungkin dilakukan adalah menyesuaikan antara reaksi dengan sumber daya yang ada, yakni membagi menjadi dua gelombang. Adapun langkah dalam proses pembagian kelompok menulis ini adalah menggunakan system penyaringan gugur yang diukur dari dua hal: (1) ketepatan waktu dalam tiap pertemuan materi, (2) ketepatan dalam mengumpulkan tugas yang telah diberikan instruktur. Apabila dalam pertemuan materi peserta terlambat hadir dan atau tidak mengumpulkan tugas, maka secara otomatis peserta tidak dapat mengikuti pertemuan berikutnya. Artinya, peserta tidak dapat melanjutkan dan gugur dalam mengikuti program training menulis gelombang I ini. Langkah ini diambil untuk menciptakan tantangan bagi peserta training. Adapun peserta training menulis kreatif gelombang I ini adalah sebagai berikut :

     

    No

    Nama

    TTL

    Alamat

    1

    Choirul Nisa’

    Sda, 4/3/87

    Mindi Porong Sidoarjo

    2

    Hasan Bashori

    Pas, 1/10/86

    Sekarmojo Purwosari Pas.

    3

    Kalimatul Zuhro

    Sda, 22/6/89

    Jeruklegi Balungbendo Sda.

    4

    Muhlisin

    Mlg, 28/11/86

    Srigading Lawang Malang

    5

    M. Syaikhuddin

    Pas, 23/9/86

    Genitri Sukorejo Pasuruan

    6

    Moh. Wardianto

    Pas, 3/12/88

    Gunung Gangsir Beji Pas.

    7

    Rif’atul Mar’ah

    Sda, 8/6/90

    Jabon Sidoarjo

    8

    Ragil Imroatul Z.

    Blt, 24/7/89

    Karanganom Nglegok Blt.

    9

    Syaifuddin

    Pas, 14/9/86

    Pucangsari Purwosari Pas.

    10

    Siti Zulaikha

    Pas, 7/7/91

    Pandaan Pasuruan

     

     

    · Kisah Keluh Kesah Training Menulis

    “Seorang optimis memandang pada bunga mawar saja, bukan pada durinya.

    Sorang pesimis merenungi duri, acuh tak acuh pada bunganya”

    (Kahlil Gibran)

    Mampukah saya menulis dengan tempo waktu yang sangat singkat? Mungkin itu pertanyaan yang masih mengakar di otak kita masing-masing. Ternyata asyik juga mengikuti perkembangan peserta program training ini, ada yang optimis, tapi sepertinya banyak yang pesimis. Namun, yang lebih menarik adalah dengan kepesimisan mereka tentang kemampuan menghasilkan karya bukan berarti mereka tidak menghasilkan karya justru karena pesimis mereka terdorong membuat karya terbaik sesuai dengan kemampuannya.

    Kondisi ini adalah tantangan tersendiri bagi saya (sebagai instruktur) dan pembimbing mereka (Zainal Abidin, Moh Nur Hasyim dan Achmad Mansur). Instruktur dan pembimbing harus mampu dan setia mendampingi perkembangan psikologi peserta training agar senantiasa memiliki jiwa dan ruh serta semangat menghasilkan karya walaupun kami sadar bahwa kami bukanlah ahli psikologi jiwa.

    Dalam proses pendampingan dan pembimbingan peserta training, instruktur dan pembimbing tidak cukup hanya memberikan layanan dalam bentuk formal (konsultasi tatap muka) namun juga non formal dalam bentuk konsultasi melalui telpon, sms bahkan ‘mimpi’. Jadi 24 jam non stop selama satu bulan penuh instruktur dan pembimbing selalu terbayang-bayang pada peserta. Sebaliknya, apakah peserta juga terbayang-bayang kepada instruktur dan pembimbing? Tanyakan sendiri pada mereka…(he..3x…..capek deh).

    Hasilnya luar biasa. Seandainya kami yang menjadi peserta training mungkin kami tidak akan mampu seperti mereka. Semangat dan perjuangan mereka dalam menghasilkan karya tidak cukup diacungi satu jempol kanan, namun jempol kiri bahkan ke-dua jempol kaki patut diacungkan secara bersama-sama untuk memberikan apresiasi tentang perjuangan dan semangat mereka.

    Sebagai ilustrasi perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menghasilkan karya kami kutip beberapa dialog yang terangkum melalui sms :

    Pembimbing : gimana prosesnya?

    Peserta : waduh Mr bingung!

    Pembimbing : Jadikan aja bingun itu inspirasi.

    Peserta : Aduh sir.. kebingungan jadi obyek inspirasi? yang ada malah melayang-layang… ntah tau kemana… mau nulis sepi… tak ada hinggapan ide cemerlang… yang mencoret imajinasi berfikir… trus langkahku mau dibawah kemana.?

    (disaat detik-detik pengumpulan terakhir karya tulis, mereka masih gigih berjuang)

    Pembimbing : Gimana da finish ta?

    Peserta : Waduh sir, ni kepala saya kayaknya semakin botak dan tangan saya kriting. Ampek g’ matrikulasi ni qt2. berikan solusi dong??

    Pembimbing : Solusinya : ambil pena, mainkan imajinasi lalu di tulis ok!

    Peserta : Pak karna hujan saya g’ bs ngumpulin tugasku gmn klo bsk pak? apa msh di terima? Kasih jawabannya pak.

    Instruktur : g’ boleh. Kalo sebelum subuh. Kalo pagi2 (setelah shubuh-red) g’ apa2. saya tunggu karya terbaik sampean semua.

    Ilustrasi diatas sudah bisa dibayangkan bagaimana kebingungan-kebingungan yang menghinggapi peserta training menulis, semangat mereka untuk keluar dari kebingungan-kebingungan, serta upaya instruktur dan pembimbing dalam memberi motivasi pada peserta training.

    Untuk menyempurnakan karya dari peserta training, instruktur dan pembimbing secara bersama-sama menguji hasil karya setiap peserta. Desain ujian karya di format seperti layaknya Ujian Skripsi dalam perguruan tinggi. Satu peserta harus mempertanggung jawabkan karyanya untuk di sempurnakan kepada empat penguji. Uuuch serem… sebelum peserta training di uji, mereka di sumpah untuk mempertanggung jawabkan bahwa karya tulis mereka adalah asli dan bukan dari hasil plagiat.

    Tujuan diadakan ujian karya tulis ini bukanlah untuk menghakimi, menyalahkan, atau melemahkan semangat peserta training, tapi untuk menyempurnakan karya tulis yang telah mereka hasilkan.

    Alhamdulillah dalam waktu yang sangat singkat (10 hari), dari 10 peserta mampu menghasilkan karya 8 artikel, 9 cerpen, 3 novel, 1 antologi puisi, dan 1 buku.

    Berbagai macam tema yang diangkat dalam karya tersebut, ada yang mengangkat tentang dunia kemahasiswaan, keorganisasian, kepesantrenan, sosial budaya, gender, agama, dan liku-liku kehidupan remaja.

    Beragamnya tema yang diangkat oleh peserta training mengindikasikan peserta training sudah memahami berbagai ayat di sekitarnya yang perlu dijadikan inspirasi dalam berkarya. Mereka tidak tersekat dan tersaklet pada tema-tema tertentu.

    Untuk merayakan awal perjalanan mereka, panitia me-wisuda peserta training menulis yang di selenggarakan pada hari Minggu tanggal 03 Februari 2008 di Hall Kampus Universitas Yudharta Pasuruan sebagai bentuk dan wujud apresiasi perjuangan mereka dalam mengikuti training menulis.

    Adanya wisuda ini bukanlah tanda dari akhir karya menulis mereka, tetapi sebagai bentuk ketukan moral bahwa mereka baru memulai dan berjuang dalam membuat dan menghasilkan karya tulis yang lebih baik dan lebih bermutu.

     

    · Membangun Mimpi Masa Depan Penulis ‘Saigon City’

    Ketika kamu sampai pada akhir dari apa yang musti kamu ketahui…

    kamu akan berada pada awal dari apa yang musti kamu rasakan…

    (Kahlil Gibran)

    Setelah wisuda lalu ngapain??? Mungkin itu adalah pertanyaan selanjutnya yang menghinggapi kita semua. Karena dari sinilah semua baru dimulai untuk mewujudkan mimpi imajiner, yakni terbentuknya komunitas penulis yang produktif di ‘Saigon City’.

    Ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu dilakukan.

    Yang pertama adalah bagaimana cara agar produktifitas menulis peserta training dalam membuat karya bisa meningkat.

    PR yang pertama inilah yang paling berat. Karena di ‘Saigon City’ masih belum terciptanya kultur menulis melalui kesadaran sendiri. Mereka sebenarnya mempunyai potensi yang luar biasa apabila ada tantangan dan kemauan.

    Yang kedua, media apa saja yang bisa menyalurkan hasil karya mereka.

    Masih kurang maksimalnya media di ‘Saigon City’ yang bisa digunakan untuk menyalurkan karya tulis mereka serta akses ke media lain di luar ‘Saigon City’ adalah tantangan yang perlu dipecahkan bersama.

    Di beberapa organisasi, baik di lingkungan santri, mahasiswa, lembaga pendidikan dari MI sampai Perguruan Tinggi, bahkan pesantren mempunyai media yang berfungsi menyalurkan hasil karya tulis ‘anak bangsa’ ini. Baik penerbitan bulletin, penerbitan majalah, penerbitan buku, majalah dinding, ataupun upload internet di media website (webblog, misalnya).

    Hanya saja, yang mengisi media ataupun yang mengupayakan penerbitan media tersebut di ‘Saigon City’ masih dihandle oleh beberapa orang saja.

    Hal ini karena masih belum banyak orang yang percaya diri dalam membuat karya tulis. Di samping itu, tidak semua paham bagaimana menyalurkan karya tulis yang sudah dibuat untuk diberikan kepada siapa, atau mau diapakan.

    Selain itu, tidak banyak karya tulis yang telah dihasilkan di ‘Saigon City’ mampu menembus media luar, baik media massa maupun media penerbitan.

    Oleh karena itu, upaya-upaya baik memaksimalkan media yang ada di ‘Saigon City’ maupun membuka akses media massa maupun media penerbitan merupakan hal yang perlu dipikirkan dan diupayakan akan bisa terwujud.

    Yang ketiga, karena training ini didesain untuk tingkat basic, maka bagaimana cara meningkatkan kemampuan dasar mereka agar mereka mampu menjadi penulis hebat.

    Banyak keilmuan yang perlu diasah dan dikembangkan. Peserta training menulis ini masih diasah untuk memunculkan potensi diri yang mereka miliki, namun belum diasah bagaimana memaksimalkan potensi yang telah ada.

    Misalnya, selama ini peserta training dalam menulis masih banyak didasarkan atas pengalaman dan pengamatan pribadi. Mereka masih belum dibekali dalam membuat karya tulis berdasarkan data hasil riset.

    Yang keempat, bagaimana mereka dapat terakomodir dalam sebuah komunitas penulis.

    Dengan terbentuknya komunitas penulis, diharapkan banyak membantu para penulis muda untuk bisa saling mengasah antar anggota dalam bidang menulis. Selain itu, komunitas ini juga bisa berfungsi sebagai pusat informasi dan mediasi dengan lembaga penulis di luar ‘Saigon City’, serta banyak manfaat yang lain.

    Tentunya, komunitas ini perlu dibangun tidak hanya sekedar kumpul, tetapi memang mampu memberikan manfaat yang besar baik kepada anggota komunitas maupun masyarakat sekitar, khususnya di ‘Saigon City’.

    Itulah beberapa PR yang masih belum terwujud di ‘Saigon City’ ini. Melalui catatan kecil ini, penulis ingin mengajak kepada pembaca untuk bersama-sama memecahkan PR ini, karena penulis menyadari bahwa penulis ternyata masih ada batas-batas kekuatan yang tidak mampu penulis lakukan sendiri. Perlu i’tikad dan pemahaman bersama dari berbagai kalangan untuk bisa menciptakan mimpi imajiner ini.

     

    C. EPILOG

    Tak terasa, satu bulan lamanya training menulis yang pertama ini telah berlalu. Banyak suka dan duka yang telah tertanam dalam benak-benak peserta, instruktur, pembimbing dan tentunya panitia.

    Akankah kenangan ini akan berlalu begitu saja??? Kami berharap tidak demikian. Semoga apa yang telah diperjuangkan oleh Pengurus Komisariat PMII Ngalah yang telah mampu mewujudkan training ini tidak hanya berhenti sampai disini. Jangan sampai ada tanda titik dalam perjuangan, namun yang ada hanya tanda tanya sehingga kita terus mencari jawabannya. Begitu petuah mbah Kacung. Berikanlah kesempatan bagi kita semua untuk tidak saling ‘berpisah’ agar kita bisa saling menyapa dalam asa dan karya….

    Akhir kata…selamat berjuang…dan berkarya

    Wallohul Muwafiq Illa Aqwamith Thorieq

    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

    ‘Saigon City’, Minggu, 3 Februari 2008

    02.00 WIB

     

    Amang Fathurrohman, M.PdI

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.